Kecamatan
Peudada Kabupaten Bireuen identik dengan kawasan pertanian dan sebagian besar
masyarakat tergolong kedalam ekonomi menengah kebawah dengan mata pencaharian
rata-rata sebagai petani, sebagian besar mereka bertahan hidup dengan hasil
pertanian dilahan miliknya dan juga sebagai buruh tani dilahan orang lain. Untuk
kawasan ini tidak tanggung-tanggung Jumlahnya yaitu tidak kurang dari 1000
Kepala Keluarga yang berasal dari beberapa desa. Rutinitas sebagai petani yang
digeluti secara turun temurun dikawasan tersebut membuat mereka tidak bisa
keluar dari garis kemiskinan dan sangat berpotensi kemiskinan ini akan terus diwarisi
sampai anak cucunya nanti, hal ini terjadi akibat biaya operasional yang
dikeluarkan sebagai modal awal tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh
saat musim panen, hal ini terjadi akibat tidak tersedianya sarana pendukung
seperti jalan dan jembatan.
Dampak yang
dirasakan terutama sekali adalah derajat kesehatan mereka dibawah rata-rata
masyarakat pada umumnya karena asupan gizi mereka jauh dari kata cukup, selain
itu tidak jarang kita menemukan tingkat putus sekolah karena kemampuan ekonomi keluarganya tidak mampu
membiayai pendidikan anaknya, benar bahwa untuk urusan pendidikan sudah gratis
namun biaya transportasi dari rumah ke sekolah juga tidak kalah besar sehingga
dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut akhirnya kebanyakan memilih untuk
berhenti sekolah. Lain halnya bagi petani yang menetap diareal pertanian yang
sama sekali tidak terfikir untuk urusan pendidikan karena akses meraka
terkendala Karena tidak tersedia jembatan penyebrangan sehingga mereka lebih
memilih kembali ke desa nya selama seminggu sekali dan akan lebih fatal bagi
istri petani dalam keadaan hamil maka bisa dipastikan untuk urusan pemeriksaan
kehamilannya tidak pernah terjadi yang seharusnya minimal harus didapatkan 4
kali kunjungan selama kehamilan dan baru memilih kembali ke desanya menjelang
persalinan.
Atas kondisi tersebut salah satu upaya yang dilakukan oleh
petani sejak tahun 2013 – 2016 yaitu membuat rakit dari bambu sebagai alat
penyebrangan, namun hal ini belum menjawab persoalan karena saat musim hujan
dengan luapan air sungai yang tinggi serta derasnya arus maka rakit yang mereka
miliki ikut terbawa arus. Dampak lain yang dirasakan akibat tidak tersedianya
jembatan yaitu tidak jarang petani menanggung rugi akibat hasil panen yang semestinya
sudah bisa dijual namun terkendala saat penyebrangan akhirnya ikut terbawa arus
saat air sungai meluap terutama bagi petani yang lokasi lahannya berdekatan
dengan aliran sungai. Kondisi ini menjadi salah satu faktor terpuruknya ekonomi
warga didaerah tersebut serta salah satu sector penyumbang tingginya tingkat
kemiskinan di Aceh, tingginya angka anak
putus sekolah, rendahnya kualitas kesehatan masyarakat walaupun mereka tinggal
di negeri yang subur.
Tidak patah semangat
dengan kondisi selama ini karena disanalah tempat mereka bertahan hidup,
kemudian kembali mencoba alat transportasi lain setelah gagal menggunakan rakit
sebagai alat penyebrangan. Pada tahun 2016 mereka mengambil inisiatif
menggunakan kabel trolly baja yang membentang sungai sebagai alat penyebrangan alternative
dengan menggunakan roda sebagai motor penggerak, satu sisi dapat diandalkan
namun dari segi keselamatan petani sangat dikhawatirkan Karena alat tersebut sungguh
tidak aman bagi pengguna, belum lagi berbicara yang akan menggunakan alat
penyebrangan tersebut adalah anak-anak dan ibu-ibu dari istri petani serta
tidak ada pilihan lain kecuali kabel trolly tersebut sebagai satu-satunya alat penyebrangan
disana.
Atas
kondisi ini, pada tahun 2018 oleh Camat Kecamatan Peudada sedang berupaya untuk
membuat alat transportasi berupa kereta gantung yang sedikit lebih aman sebagai
pengganti alat transportasi yang sebelumnya dengan menggunakan se-utas kabel
baja yang terbentang disungai, namun juga belum bisa dikatagorikan aman karena tiang
penyangga yang digunakan didua sisi sungai yaitu menggunakan batang kayu
sehingga prediksi kami kereta gantung ini hanya bertahan 3 – 6 bulan kemudian
kembali rusak dan roboh. Langkah satu-satunya untuk sarana penyebrangan disana adalah
membangun Jembatan gantung mini dengan ukuran lebar 120 cm sehingga bisa
melewati sepeda motor.
Hibah
kereta gantung dari Camat Peudada (M. Hasan) serta swadaya petani setempat
akhirnya menjadi alternative sementara, hal ini sudah bisa difungsikan dengan
bobot muatan tidak lebih dari 300 kg, terkait dengan ini dilakukan atas
inisiatif camat untuk memperlancar usaha bagi petani serta dengan kentalnya
budaya gotong royong petani setempat akhirnya bisa terwujud kereta gantung
tersebut, namun hanya bersifat sementara sembari berharap adanya pembangunan jembatan
yang permanen baik dari Pemerintah maupun sumbangan dari donator dan nantinya
direncanakan supaya untuk lebih irit dari biaya maka petani setempat secara
sukarela akan membangun jembatan tersebut secara bersama-sama, sementara
kebutuhan material diharapkan dapat dibantu oleh para pihak yang bersedia
membantu mereka mewujudkan satu unit jembatan gantung.
RENCANA ANGGARAN BIAYA
(Minus ongkos tukang dan material galian)
Total
biaya yang dibutuhkan untuk rencana pembangunan jembatan gantung mini yang
dimaksud sebesar Rp. 257.960.000,-
oleh karena itu, mari kita dukung mereka supaya bisa keluar dari garis kemiskinan, terpenuhinya pendidikan dan kesehatan untuk keluarganya dengan cara BERDONASI, sebagai berikut ;
CARA BERDONASI:
1. Klik link https://kitabisa.com/jeritanpetani
2. Klik tombol “DONASI SEKARANG”
3. Masukan nominal donasi
4. Pilih metode pembayaran (transfer bank atau kartu kredit)
Dan apabila tidak keberatan, kami sangat berterimakasih sekali apabila anda berkenan untuk mau menyebarkan & memberitahu orang-orang baik dan peduli lainnya dengan cara menyebarkan kampanye donasi ini ke social networking anda.
Informasi lebih lanjut bisa melalui contak person dan email campainer dibawah ini:
1. Camat Kecamatan Peudada - Drs. Hasan, No. HP 081397804000
2. Campainer - Marbawi/Relawan Desa, No. HP 085260665995, Email; bawi.bima@gmail.com











Tidak ada komentar:
Posting Komentar