Kamis, 03 Mei 2018

Dunia Pendidikan Tercoreng Setelah Pengumuman Ujian Kelulusan

Kamis 3 Mai 2018 merupakan hari yang sangat bersejarah bagi siswa/i kelas III Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dimana pada hari tersebut bertepatan dengan pengumuman kelulusan Ujian Nasional, merupakan hari yang sangat berbahagia karena mereka sudah sukses dalam meniti ilmu pendidikan dan siap untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Kebahagiaan ini bukan cuma dirasakan oleh siswa/i yang bersangkutan saja namun orang tuanya juga ikut berbahagia karena telah berhasil menyekolahkan anaknya sampai tingkat atas yang penuh perjuangan sehingga menjadi insan pendidikan yang lebih baik, selain itu Guru dan lembaga pendidikan yang sudah mendidik mereka juga ikut bahagia atas kesuksesan tersebut dalam mendidik putra/i bangsa dan terakhir yang punya andil juga adalah Lembaga Pendidikan baik di daerah maupun tingkat pusat. 

Dalam mengekspresikan kesuksesan ini tentu bermacam-macam, mulai dari acara syukuran berupa santunan fakir miskin, makan-makan serta berkumpul bersama keluarga dan bahkan yang tidak kalah terharu adalah mereka datang menjumpai guru-guru mereka untuk bersalaman serta ucapan terimakasih dalam suasana  haru, hari ini semua pihak terkait berbangga atas kesuksesan tersebut. 

Kondisi dimana dunia pendidikan ikut tercoreng

Tak kalah menarik lagi dalam merayakan kesuksesan tersebut diekspresikan dengan pergelaran konvoy sepeda motor kemudian menyalakan lampu dan klakson motor mereka masing2 dengan pakaian yang sudah disemprot dengan cat pilot, pemandangan ini sedikit terganggu karena mereka juga menggunakan jalan umum yang sedikit membahayakan bagi mereka sendiri maupun bagi pengguna lalu lintas lainnya. Padahal jauh-jauh hari sebelum informasi kelulusan diumumkan sudah diingat oleh pihak sekolah mereka masing-masing supaya tidak ada siswa/i mereka yang mengelar kebahagiaan secara berlebihan diluar norma-norma didaerah, namun hal tersebut tetap saja terjadi. 

Evoria tersebut ternyata berbuntut panjang, pemandangan konvoy yang digelar sejak sore hari ternyata berlanjut sampai jam 21.00 Wib dan ini sungguh tidak indah apalagi terjadi dibumi serambi mekkah (Aceh)  karena tidak sesuai dengan norma dan budaya setempat, tidak lagi dikenal laki-laki dan perempuan karena semua sudah membaur menjadi satu sehingga sumpah serapah publik pun dilayangkan dimedia sosial berupa facebook, sasarannya mulai dari tingkat orang tua mereka, sekolah, lembaga pendidikan dan bahkan dikaitkan dengan program unggulannya pimpinan daerah terpilih dan konon bahwa kegagalan ini merupakan imbas untuk semua pihak dan ini terjadi hampir tiap tahun. 

Upaya kedepan

Berbagai upaya sudah dilakukan oleh pihak sekolah dan lembaga pendidikan supaya Evoria yang berlebihan tidak dilakoni oleh siswa/i mereka namun belum berhasil. Atas kondisi ini mungkin satu langkah lagi belum dilakukan yaitu bagaimana bila seandainya metode penyampaian informasi kelulusannya sedikit dirubah sehingga tidak ada alasan mereka untuk berkumpul seperti kejadian hari ini yaitu tidak lagi diumumkan sencara terbuka namun oleh pihak sekolah mengundang masing-masing orang tua atau wali murid untuk mengambil amplop yang berisi informasi kelulusan anaknya, sementara siswa diliburkan sekolah pada hari tersebut dan bila ini terjadi maka kita yakin nilai miring sebagaimana informasi diatas tidak bakal terjadi.

Semoga bisa jadi salah satu solusi sebagai strategi ke depan.... 

Sabtu, 28 April 2018

JEMBATAN MASA DEPAN UNTUK PETANI KECAMATAN PEUDADA

KONDISI SAAT INI


Kecamatan Peudada Kabupaten Bireuen identik dengan kawasan pertanian dan sebagian besar masyarakat tergolong kedalam ekonomi menengah kebawah dengan mata pencaharian rata-rata sebagai petani, sebagian besar mereka bertahan hidup dengan hasil pertanian dilahan miliknya dan juga sebagai buruh tani dilahan orang lain. Untuk kawasan ini tidak tanggung-tanggung Jumlahnya yaitu tidak kurang dari 1000 Kepala Keluarga yang berasal dari beberapa desa. Rutinitas sebagai petani yang digeluti secara turun temurun dikawasan tersebut membuat mereka tidak bisa keluar dari garis kemiskinan dan sangat berpotensi kemiskinan ini akan terus diwarisi sampai anak cucunya nanti, hal ini terjadi akibat biaya operasional yang dikeluarkan sebagai modal awal tidak sebanding dengan pendapatan yang diperoleh saat musim panen, hal ini terjadi akibat tidak tersedianya sarana pendukung seperti jalan dan jembatan.

Dampak yang dirasakan terutama sekali adalah derajat kesehatan mereka dibawah rata-rata masyarakat pada umumnya karena asupan gizi mereka jauh dari kata cukup, selain itu tidak jarang kita menemukan tingkat putus sekolah karena  kemampuan ekonomi keluarganya tidak mampu membiayai pendidikan anaknya, benar bahwa untuk urusan pendidikan sudah gratis namun biaya transportasi dari rumah ke sekolah juga tidak kalah besar sehingga dengan pertimbangan-pertimbangan tersebut akhirnya kebanyakan memilih untuk berhenti sekolah. Lain halnya bagi petani yang menetap diareal pertanian yang sama sekali tidak terfikir untuk urusan pendidikan karena akses meraka terkendala Karena tidak tersedia jembatan penyebrangan sehingga mereka lebih memilih kembali ke desa nya selama seminggu sekali dan akan lebih fatal bagi istri petani dalam keadaan hamil maka bisa dipastikan untuk urusan pemeriksaan kehamilannya tidak pernah terjadi yang seharusnya minimal harus didapatkan 4 kali kunjungan selama kehamilan dan baru memilih kembali ke desanya menjelang persalinan.

Atas kondisi tersebut salah satu upaya yang dilakukan oleh petani sejak tahun 2013 – 2016 yaitu membuat rakit dari bambu sebagai alat penyebrangan, namun hal ini belum menjawab persoalan karena saat musim hujan dengan luapan air sungai yang tinggi serta derasnya arus maka rakit yang mereka miliki ikut terbawa arus. Dampak lain yang dirasakan akibat tidak tersedianya jembatan yaitu tidak jarang petani menanggung rugi akibat hasil panen yang semestinya sudah bisa dijual namun terkendala saat penyebrangan akhirnya ikut terbawa arus saat air sungai meluap terutama bagi petani yang lokasi lahannya berdekatan dengan aliran sungai. Kondisi ini menjadi salah satu faktor terpuruknya ekonomi warga didaerah tersebut serta salah satu sector penyumbang tingginya tingkat kemiskinan di Aceh, tingginya  angka anak putus sekolah, rendahnya kualitas kesehatan masyarakat walaupun mereka tinggal di negeri yang subur.


Tidak patah semangat dengan kondisi selama ini karena disanalah tempat mereka bertahan hidup, kemudian kembali mencoba alat transportasi lain setelah gagal menggunakan rakit sebagai alat penyebrangan. Pada tahun 2016 mereka mengambil inisiatif menggunakan kabel trolly baja yang membentang sungai sebagai alat penyebrangan alternative dengan menggunakan roda sebagai motor penggerak, satu sisi dapat diandalkan namun dari segi keselamatan petani sangat dikhawatirkan Karena alat tersebut sungguh tidak aman bagi pengguna, belum lagi berbicara yang akan menggunakan alat penyebrangan tersebut adalah anak-anak dan ibu-ibu dari istri petani serta tidak ada pilihan lain kecuali kabel trolly tersebut sebagai satu-satunya alat penyebrangan disana.

Atas kondisi ini, pada tahun 2018 oleh Camat Kecamatan Peudada sedang berupaya untuk membuat alat transportasi berupa kereta gantung yang sedikit lebih aman sebagai pengganti alat transportasi yang sebelumnya dengan menggunakan se-utas kabel baja yang terbentang disungai, namun juga belum bisa dikatagorikan aman karena tiang penyangga yang digunakan didua sisi sungai yaitu menggunakan batang kayu sehingga prediksi kami kereta gantung ini hanya bertahan 3 – 6 bulan kemudian kembali rusak dan roboh. Langkah satu-satunya untuk sarana penyebrangan disana adalah membangun Jembatan gantung mini dengan ukuran lebar 120 cm sehingga bisa melewati sepeda motor.

Hibah kereta gantung dari Camat Peudada (M. Hasan) serta swadaya petani setempat akhirnya menjadi alternative sementara, hal ini sudah bisa difungsikan dengan bobot muatan tidak lebih dari 300 kg, terkait dengan ini dilakukan atas inisiatif camat untuk memperlancar usaha bagi petani serta dengan kentalnya budaya gotong royong petani setempat akhirnya bisa terwujud kereta gantung tersebut, namun hanya bersifat sementara sembari berharap adanya pembangunan jembatan yang permanen baik dari Pemerintah maupun sumbangan dari donator dan nantinya direncanakan supaya untuk lebih irit dari biaya maka petani setempat secara sukarela akan membangun jembatan tersebut secara bersama-sama, sementara kebutuhan material diharapkan dapat dibantu oleh para pihak yang bersedia membantu mereka mewujudkan satu unit jembatan gantung.  



GAMBAR JEMBATAN GANTUNG



RENCANA ANGGARAN BIAYA
(Minus ongkos tukang dan material galian)


Total biaya yang dibutuhkan untuk rencana pembangunan jembatan gantung mini yang dimaksud sebesar Rp. 257.960.000,-
oleh karena itu, mari kita dukung mereka supaya bisa keluar dari garis kemiskinan, terpenuhinya pendidikan dan kesehatan untuk keluarganya dengan cara BERDONASI, sebagai berikut ;

CARA BERDONASI:
1. Klik link https://kitabisa.com/jeritanpetani 
2. Klik tombol “DONASI SEKARANG”
3. Masukan nominal donasi
4. Pilih metode pembayaran (transfer bank atau kartu kredit)

Dan apabila tidak keberatan, kami sangat berterimakasih sekali apabila anda berkenan untuk mau menyebarkan & memberitahu orang-orang baik dan peduli lainnya dengan cara menyebarkan kampanye donasi ini ke social networking anda.
Informasi lebih lanjut bisa melalui contak person dan email campainer dibawah ini:
1. Camat Kecamatan Peudada - Drs. Hasan, No. HP 081397804000
2. Campainer - Marbawi/Relawan Desa, No. HP 085260665995, Email; bawi.bima@gmail.com